fbpx
Rabu, 27 Oktober 2021

Aktifitas Manufaktur Cina Melambat

Tingginya biaya bahan baku, kurangnya pasokan semikonduktor serta kebangkitan wabah Covid-19 di provinsi Guangdong sebagai basis ekspor utama, menjadi faktor-faktor yang menimbulkan tekanan terhadap laju pertumbuhan aktifitas pabrik di Cina sehingga turun ke level terendahnya dalam empat bulan pada Juni ini.

Terjadinya krisis pasokan produk chip telah menghantam sektor manufaktur di kawasan Asia, seperti yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan dimana output manufaktur mengalami kemerosotan di bulan Mei dari bulan sebelumnya.

Hal ini diakibatkan karena laju produksi mobil mengalami penurunan karena kurangnya pasokan produk semikonduktor, sehingga menambah kekhawatiran terhadap lesunya momentum ekonomi di kedua negara ekonomi utama di Asia tersebut.

China National Bureau of Statistics melaporkan data manufacturing PMI resmi di bulan Juni yang mencatat penurunan menjadi 50.9 dari 51.0 di bulan Mei sebelumnya, namun angka tersebut masih melebihi perkiraan perlambatan ke 50.8 dari para analis.

Kepala ekonom Great China di ING, Iris Pang mengatakan bahwa sebagian besar hal ini diakibatkan oleh pandemi Covid-19 yang mencatat peningkatan gelombang infkesi serta pembatasan yang diberlakukan di sejumlah negara tetangga, sehingga mempengaruhi produksi pabrik serta pesanan ekspor baru.

Dengan mengacu pada perbandingan dampak gangguan pandemi di tahun lalu, Pang lebih lanjut menyampaikan bahwa secara keseluruhan hasil bulan ini bukan menjadi bulan yang hebat namun demikian tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, selain itu tingkat pertumbuhan di Cina masih positif meskipun masih jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.

Sementara Zhao Qinghe selaku ahli statistik senior di NBS, mengaitkan perlambatan produksi dengan faktor penghambat seperti kekurangan semikonduktor, pasokan batu bara yang tidak memadai, krisis listrik, dan pemeliharaan peralatan, terkait sub-indeks produksi yang turun ke 51.9 dari 52.7 di bulan sebelumnya.

Kekurangan pasokan batu bara di wilayah selatan China, yang dimulai pada pertengahan Mei, telah memberikan pukulan terhadap operasi pabrik meskipun pemerintah mengatakan krisis listrik akan segera mereda.

Untuk pesanan ekspor baru dilaporkan turun untuk bulan kedua secara berturut-turut pada bulan Juni dan kemungkinan hal ini dikarenakan kebangkitan global dari varian Covid-19 Delta, yang memaksa sejumlah negara memberlakukan kembali kebijakan lockdown.

Sub-indeks untuk biaya bahan baku di PMI resmi berdiri di 61,2 di bulan Juni, dibandingkan dengan 72,8 di bulan Mei, karena pemerintah menindak harga bahan baku yang tinggi, akan tetapi pertumbuhan pesanan baru dinilai masih meningkat karena permintaan domestik yang membaik.

Laju pertumbuhan di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, telah pulih sebagian besarnya dari dampak gangguan yang disebabkan oleh pandemi, namun pertumbuhan produk domestik bruto sepertinya melaju secara moderat.

Analis di HSBC mengatakan bahwa sebagian besar pemulihan telah terjadi namun momentum dinilai melambat, yang mana jika dikombinasikan dengan basis relatif yang lebih tinggi, maka pertumbuhan PDB di tingkat tahunan diperkirakan akan mengalami perlambatan menjadi 7.2% di triwulan kedua dari 18.3% pada triwulan pertama lalu.

Mereka juga memperkirakan bahwa dalam rata-rata dua tahun, laju pertumbuhan akan meningkat menjadi 5.2% dari 5.0%, meskipun angka ini masih di bawah level pra-pandemi dari laju pertumbuhan sebesar 6.0%.

Terjadinya perlambatan ini juga tidak terlepas dari gangguan wabah infeksi virus corona di provinsi Guangdong, sebagai provinsi ekspor utama Cina, sehingga menimbulkan gangguan terhadap laju pengiriman ke pasar luar negeri.

Sedangkan untuk non-manufacturing PMI resmi, dilaporkan turun menjadi 53.5 pada bulan Juni dari 55.2 pada bulan Mei lalu, yang dipengaruhi oleh kemunduran dalam pemulihan sektor jasa yang tajam akibat wabah Covid di tingkat lokal.

Indeks konstruksi masih bertahan stabil di angka 60.1, meskipun analis memperkirakan bahwa sektor ini masih menghadapi tantangan di tengah tindakan keras pemerintahan Beijing terhadap pasar properti Cina.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.