fbpx
Rabu, 27 Oktober 2021

Ekonomi Selandia Baru Tumbuh Lebih Cepat

Booming di sektor perumahan serta pertumbuhan belanja ritel yang kuat, mampu membawa Selandia Baru menghindar dari resesi kedua serta mampu mengedepankan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat, menjadi latar belakang bagi laju pertumbuhan ekonomi Selandia Baru yang melampaui perkiraan di periode kuartal pertama.

Lembaga Statistics New Zealand merilis data produk domestik bruto yang tumbuh 1.6% dalam tiga bulan pertama di tahun ini, yang jauh melampaui perkiraan pertumbuhan 0.5% dalam jajak pendapat Reuters serta perkiraan penurunan 0.6% dari RBNZ.

Keberhasilan Selandia Baru dalam mengatasi krisis virus corona telah memungkinkan mereka untuk membuka kembali aktifitas ekonomi domestiknya sebelum negara maju lainnya mampu melakukan hal tersebut, sehingga mereka mampu meningkatkan lapangan kerja dan belanja konsumennya.

Westpac Bank mengatakan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berjalan sekitar 0,8% di atas level yang terlihat sebelum wabah virus corona melanda secara global.

Pemulihan yang cepat mengikuti pembacaan yang lebih baik dari yang diharapkan pada indikator-indikator utama seperti pekerjaan dan pengeluaran ritel dalam beberapa bulan terakhir yang mendorong bank sentral untuk memberi sinyal yang bergeser dari pengaturan kebijakan moneter stimulasi yang diadopsi selama pandemi COVID-19, sebagai salah satu yang pertama melakukannya di dunia.

Sementara itu pihak ANZ Bank mengatakan bahwa pihaknya tengah memajukan perkiraannya bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan resminya hingga Februari 2022, dengan memperkirakan waktunya yang dinilai kurang dari setahun dari sekarang.

Lebih lanjut Sharon Zollner selaku kepala ekonom ANZ menyampaikan bahwa data kuartal pertama telah mengkonfirmasi laju pemulihan ekonomi Selandia baru secara relatif bersifat spektakuler terhadap ekspektasi awal pandemi, yang mana sementara ini masih tersisa sejumlah kelemahan sehingga sulit untuk mengidentifikasi tingkat agregatnya.

Sebagian besar pertumbuhan yang tercatat mendapat dorongan dari melaonjaknya sektor perumahan di tengah kondisi suku bunga rendah dan hipotek murah, walaupun kekhawatiran mengenai keterjangkauan perumahan telah membuat pemerintah dan bank sentral Selandia baru telah memperkenalkan langkah-langkah untuk mencoba mendinginkan pasar.

Dalam sebuah pernyataannya Menteri Keuangan Selandia Baru Grant Robertson mengatakan bahwa kepercayaan pada pemulihan juga menyebabkan peningkatan belanja ritel, makan di luar dan akomodasi liburan, mengimbangi hilangnya pariwisata luar negeri, namun beliau memperingatkan masih adanya ketidakpastian.

Rebound data pertumbuhan yang terjadi di Selandia Baru terjadi setelah pemerintahnya melaporkan adanya penurunan 1.0% dalam pertumbuhan ekonomi di kuartal terakhir pada tahun 2020 lalu, dan secara tahunan produk domestik bruto naik 2.4% di kuartal pertama, dari ekspektasi kenaikan 0.9% dari para analis.

Negara tersebut telah pulih dari resesi dengan merevisi pertumbuhan PDB di tingkat kuartal di 14.1% dalam tiga bulan hingga September tahun lalu, yang mana angka tersebut membalikkan penurunan 11% di kuartal sebelumya saat pandemi Covid-19 terjadi secara global.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.