Home Berita Ekonomi Inflasi Konsumen Inggris Mencatat Lonjakan

Inflasi Konsumen Inggris Mencatat Lonjakan

0
Konsumen Inggris
Konsumen Inggris

Office for National Statistics merilis indeks harga konsumen Inggris yang mengalami lonjakan ke angka 2.1% di bulan Mei lalu, berada di atas target inflasi Bank of England di 2.0%, dan mencatat angka tertinggi sejak Juli 2019 lalu.

Pertumbuhan harga konsumen yang mengalami percepatan dari 1.5% di bulan April sebelumnya, sebagian besar mendapat dorongan dari efek perbandingan dengan pencapaian di bulan Mei 2020 lalu, di saat Inggris menerapkan kebijakan lockdown yang ketat untuk pertama kalinya, yang menutup sejumlah gerai terutama pakaian, bahan bakar motor, permainan dan take away food.

Angka inflasi konsumen untuk bulan Mei ini, dirilis dengan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan kenaikan menjadi 1.8% dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom sebelumnya.

Sementara itu laju inflasi inti, yang tidak mencatumkan harga makanan, energi dan barang-barang bersifat volatile lainnya, mencatat kenaikan menjadi 2.0% dalam 12 bulan hingga Mei lalu.

Saat ini para investor di seluruh dunia tengah mencoba mengukur risiko lonjakan inflasi yang berkelanjutan, terutama di AS dimana laju inflasi tahunan mencapai 5.0% di bulan Mei lalu, yang merupakan angka tertingginya dalam hampir 13 tahun terakhir.

Pihak Bank of England mengatakan bahwa mereka memperkirakan laju inflasi akan mencapai angka 2.5% di akhir tahun ini, karena aktifitas ekonomi dibuka kembali setelah mengalami lockdown virus corona dan akibat dari kenaikan harga minyak global.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey beserta mayoritas rekannya dalam dewan kebijakan bank sentral, mengatakan bahwa kenaikan inflasi akan bersifat sementara dan tidak mengharuskan pihak BoE untuk mengurangi program stimulus dalam skala besar, sehingga diperkirakan kebijakan moneter mereka tidak akan berubah dari pertemuan kebijakan terakhir mereka saat pertemuan 24 Juni mendatang.

Akan tetapi Kepala Ekonom Bank of England Andy Haldane mengatakan pada pekan lalu, bahwa para pembuat kebijakan Bank of England tengah menghadapi momen paling berbahaya sejak 1992 silam, di saat pemerintah Inggris menghapus peran mata uang Poundsterling dari European Exchange Rate Mechanism, sebagai pendahulu mata uang Euro.(WD)

Exit mobile version