fbpx
Senin, 29 November 2021

Inflasi Konsumen Korea Selatan Bertahan Di Atas 2%

Tekanan terhadap pembuat kebijakan di Bank of Korea semakin besar untuk menaikkan suku bunga mereka dalam waktu yang lebih cepat, menyusul data inflasi konsumen di Korea Selatan yang masih tetap bertahan di atas 2% pada bulan Juni, sekaligus tercatat diatas level tersebut dalam tiga bulan berturut-turut.

Pemerintahan Seoul merilis data harga konsumen yang naik 2.4% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana angka ini sedikit meleser dari perkiraan kenaikan menjadi 2.5% dari para analis, dan sedikit dibawah pencapaian 2.6% pada bulan Mei sekaligus sebagai angka pertumbuhan tercepat sejak April 2012.

Secara detail disebutkan rincian data menunjukkan biaya produk pertanian, peternakan dan perikanan naik 10.4% per tahun, sedangkan minyak bumi melonjak 19.9%.

Salah seorang ekonom di Eugene Investment & Securities, Kim Yeon-jin mengatakan bahwa seiring dampak dari perbandingan yang rendah terus berlanjut selama beberapa bulan mendatang, dan karena harga makanan segara yang mungkin akan naik menjelang musim hujan dan liburan Chuseok, maka laju inflasi akan terus bertahan di atas 2% dalam beberapa waktu mendatang.

Kim juga mengatakan bahwa anggaran tambahan yang direncanakan pemerintah dan pemberian dana tunai kemungkinan akan mengangkat sektor jasa yang terpuruk akibat pandemi, dan sekaligus juga akan meningkatkan permintaan.

Banyak ekonom saat ini melihat kenaikan suku bunga dasar dari rekor terendahnya sebesar 0.50% pada awal kuartal ketiga tahun 2021, menyusul harga rumah yang melonjak dan laju inflasi tetap di atas 2%, bahkan ketika dampak dari basis rendah tahun lalu memudar.

Korea Selatan dipandang sebagai ekonomi pertama Asia yang menarik kembali stimulus moneter era pandemi dan menormalkan kebijakan pelonggaran.

Pada pekan lalu Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol mengatakan bahwa bank sentral akan mulai menormalkan kebijakan moneter yang mudah di akhir tahun.

Krystal Tan selaku ekonom di ANZ menilai bahwa peningkatan kuartal ketiga kemungkinan terjadi jika lonjakan kasus pandemi di skala domestik dapat diatasi dengan cepat dan peluncuran program vaksinasi mendapatkan kembali momentum yang kuat, namun seiring berjalannya waktu saat ini pergerakan pada kuartal keempar terlihat lebih mungkin diwujudkan.

Selama paruh pertama di tahun ini, harga konsumen rata-rata mengalami lonjakan sebesar 1.8%, dari 0.6% pada periode yang sama di tahun sebelumnya dan mendekati target 2% dari Bank of Korea.

Naiknya biaya input akibat tekanan inflasi juga membebani pihak produsen Korea Selatan, menyusul dalam laporan di pekan ini Bank of Korea mengatakan bahwa 49% dari 281 perusahaan yang disurvei telah memberikan biaya yang lebih tinggi kepada para kliennya.

Sementara indeks harga konsumen inti, yang tidak mencakup harga energi dan pangan yang bergejolak, dilaporkan tidak nerubah dari bulan Mei berada di angka 1.2%, di saat mencatat kenaikan di laju paling tajam sejak November 2018 lalu.

Akan tetapi dalam skala bulanan laju inflasi headline jatuh ke wilayah negatifnya untuk pertama kali dalam tujuh bulan di minus 0.1% dari pencapaian 0.1% di bulan Mei.

Saat ini Bank of Korea melihat laju inflasi moderat di 1.8% sepanjang tahun 2021 dan 1.4% di tahun 2022, setelah sebelumnya di 0.5% pada 2020 setelah mencatat rekor terendahnya di 0.4% pada tahun 2019 silam.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.