fbpx
Rabu, 4 Agustus 2021

Ito : Target Inflasi BoJ Harus Fleksibel

Takatoshi Ito sebagai salah seorang akademis yang dekat dengan Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda, mengatakan bahwa pihak bank sentral harus membuat target inflasi yang lebih fleksibel, sehingga tidak hanya mampu memperhitungkan pertumbuhan harga, namun dapat memperhitungkan kesenjangan output serta penciptaan lapangan kerja di saat memutuskan kebijakan moneternya.

Saat ini Bank of Japan memiliki target inflasi secara tradisional, yang berarti bahwa target tersebut terutama fokus pada stabilitas harga di saat memutuskan kebijakan suku bunganya.

Yang mana hal ini berbeda dengan sejumlah bank sentral utama lainnya yang telah mengadopsi mandat ganda dengan menargetkan inflasi dan lapangan kerja, seperti yang dilakukan oleh Federal Reserve.

Ito dan Kuroda merupakan sejawat yang dikenal dekat sejak keduanya bekerja sama di Kementerian Keuangan Jepang pada periode 1999-2001, telah melakukan pendekatan yang keras terhadap target inflasi 2% sebagai bagian dari upaya untuk menarik ekonomi Jepang keluar dari kondisi deflasi di tahun 1999, dan hasilnya pada awal 2013 Bank of Japan secara resmi mengadopsi target inflasi tersebut.

Sejak saat itu di bawah kepemimpinan Haruhiko Kuroda, Bank of Japan telah melakukan program stimulus besar-besarn yang sejauh ini dinilai masih gagal untuk mendorong laju inflasi, yang tetap berada di kisaran nol persen.

Sebagai seorang akademisi yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Kuroda saat menjadi wakil menteri keuangan untuk urusan luar negeri di periode 1999-2001, Ito menilai bahwa sangat disayangkan bahwa target inflasi 2% belum tercapai, namun hal ini tidak bisa dianggap sebagai sebuah kegagalan.

Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa hal ini disebut oleh para ahli sebagai target inflasi fleksibel, yang berarti bahwa target inflasi bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, namun mencapai lapangan kerja penuh dengan perbaikan kesenjangan output, menjadi sesuatu yang jauh lebih baik dalam kondisi pertumbuhan ekonomi negatif di bawah inflasi 2% seperti saat ini.

Komentar tersebut menambah penilaian dari para ahli yang menyerukan untuk lebih bersikap fleksibel dalam kebijakan moneter Jepang, karena para pembuat kebijakan global tengah berusaha untuk menyeimbangkan kebutuhan mereka untuk menghidupkan kembali laju pertumbuhan di tengah peningkatan biaya stimulus yang berkepanjangan, seperti adanya pukulan terhadap laju keuntungan perbankan di tingkat tahunan dengan bunga yang sangat rendah.

Sebagai seorang profesor di Universitas Columbia untuk saat ini, Ito mengatakan bahwa Bank of Japan tidak mungkin untuk meningkatkan pembelian obligasi pemerintah Jepang dan Exchange Trade Funds (ETF), karena mereka sudah mengurangi pembelian obligasi besar-besaran mengingat bahwa efeknya telah pudar terhadap ekonomi riil.

Disebutkan pula bahwa untuk menaikkan suku bunga yang merupakan sebuah prospek yang masih sangat jauh, maka harus dibutuhkan setidaknya waktu satu tahun atau lebih setelah mencapai target inflasi di 2% terlebih dahulu.

Hal ini ikarenakan laju pelonggaran moneter belum mencapai batasnya tetapi menjadi semakin sulit untuk memandu kebijakan tersebut mengingat efek samping dari pelonggaran berkepanjangan seperti pukulan terhadap keuntungan bank.

Seperti diketahui bahwa pada Jumat pekan lalu, Bank of Japan memutuskan untuk tetap menerapkan stimulus besar-besaran, namun meluncurkan rencana untuk meningkatkan pendanaan guna memerangi perubahan iklim, dan bergabung secara global untuk mengatasi kejatuhan ekonomi dan keuangannya.

Namun ini menjadi sesuatu yang dipertanyakan oleh Ito terkait implementasinya karena nampaknya sulit untuk menarik garis terkait akan hal tersebut, meskipun hal ini dinilai menjadi suatu langkah yang cukup pantas bagi Bank of Japan.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.