fbpx
Rabu, 27 Oktober 2021

Minyak Menguat Didukung Pudarnya Prospek Pasokan

Prospek pasokan tambahan dari Iran ke pasar komoditi minyak mentah sepertinya memudar seiring pembicaraan dengan pihak AS yang berlarut-larut terkait perjanjian nuklir dengan pihak Teheran, sehingga hal ini menjadi faktor pendorong utama bagi kenaikan minyak mentah jenis Brent Crude dalam empat sesi perdagangnnya berturut-turut.

Hingga saat ini harga minyak mentah jenis Brent Crude mencatat kenaikan 0.2% atau 17 sen, sedangkan minyak mentah berjangka AS terpantau naik 0.2% atau sekitar 15 sen setelah sebelumnya melemah hingga 3 sen.

Pembicaraan secara tidak langsung antara AS dan Iran, yang pada 2015 lalu membahas mengenai program nuklir Teheran, berlanjut pada hari Sabtu lalu di Wina, Austria dan digambarkan oleh pihak Uni Eropa bahwa pembicaraan tersebut berjalan dengan intens.

Pihak AS saat ini telah kembali melakukan peninjauan terhadap kesepakatan nuklir dengan Iran, yang berpotensi membuka jalan bagi pencabutan sanksi terhadap salah satu negara pengekspor minyak utama dunia tersebut, sehingga memungkinan Iran dapat melanjutkan kembali aktifitas ekspor minyak mentah mereka.

Dalam sebuah catatannya pihak ING Economics menyebutkan bahwa nampaknya semakin tidak mungkin bahwa AS akan kembali bergabung dengan ke dalam kesepakatan nuklir Iran sebelum pemilihan presiden Iran di akhir pekan ini.

Sementara itu anggota OPEC lainnya bersama dengan negara produsen utama termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, telah menahan laju produksi mereka guna mendukung harga minyak di tengah kondisi pandemi saat ini.

Lebih lanjut analis di ING Economics mencatat bahwa pasokan tambahan dari negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ akan sangat dibutuhkan selama periode paruh kedua di tahun ini, dengan laju permintaan yang diperkirakan mampu melanjutkan pemulihannya, namun harga minyak justru turun dari level tertingginya di sesi perdagang sehari sebelumnya, yang ditandai dengan harga minyak mentah AS yang tergelincir ke wilayah negatifnya.

Sedangkan Avtar Sandu yang menjabat selaku manajer komoditas senior di Philip Futures, mengatakan bahwa indikator teknikal harian untuk saat ini merujuk pada harga minyak mentah yang telah berada di area overbought, sehingga kemungkinan akan terjadi pergerakan koreksi ke bawah.

Untuk saat ini para investor dan pedagang tengah mengamati hasil pertemuan Federal Reserve AS yang akan dimulai pada hari ini waktu setempat, guna mendapat sinyal yang lebih pasti terkait kapan waktunya untuk mengurangi stimulus moneternya.

Kabar yang beredar di pasar saat ini menyebutkan bahwa The Fed tengah bersiap-siap untuk mulai memperdebatkan bagaimana serta kapan waktunya untuk memulai mengurangi program pembelian aset dalam skala besar-besaran yang selama ini telah membantu memberikan dukungan bagi ekonomi AS selama masa pandemi.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.