fbpx
Selasa, 3 Agustus 2021

Pejabat Bank of England Kemungkinan Berbeda Pendapat

Menjelang keputusan kebijakan moneter dari Bank of England, diperkirakan bahwa para pejabat tinggi bank sentral Inggris akan mengalami perbedaan pendapat mengenai apakah akan menghentikan program pembelian obligasi pemerintah senilai 875 milliar Poundsterling ($ 1.2 triliun), setelah laju inflasi mencapai level tertingginya dalam hampir dua tahun terakhir.

Pada bulan Mei lalu Kepala Ekonom Bank of England Andy Haldane berdiri sendiri untuk memilih menghentikan program pembelian obligasi dalam kebijakan Quantitative Easing mereka di bulan Agustus mendatang setelah nilainya mencapai 825 milliar Poundsterling.

Para ekonom mengharapkan bahwa Haldane akan tetap mempertahankan sikapnya di saat Bank of England mengumumkan keputusan kebijakan terbarunya di hari Kamis mendatang, sekaligus mencari petunjuk guna melihat apakah orang lain di Monetary Policy Committee akan bersikap sama dengannya.

Dalam hal ini Haldane telah meningkatkan retorika anti inflasinya menjelang pertemuan MPC terakhirnya sebelum meninggalkan Bank of England dan menggambarkan di awal bulan ini sebagai prospek yang paling berbahaya sejak mata uang Poundsterling keluar dari European Exchange Rate Mechanism pada tahun 1992 silam.

Hasil yang ditunjukkan oleh data inflasi harga konsumen di bulan Mei berada di atas perkiraan Bank of England dan ekonom lainnya sebesar 2.1%, yang melampaui target 2% untuk pertama kalinya sejak Juli 2019 lalu, yang mana sejumlah ekonom melihat laju inflasi melebihi 3% di akhir tahun ini, dibandingkan perkiraan bank sentral sebesar 2.5% untuk akhir tahun 2021 ini.

Sanjay Raja selaku ekonom di Deutsche Bank mengatakan bahwa pertumbuhan yang lebih kuat, data pasar tenaga kerja serta inflasi sejauh ini akan memiringkan pernyataan kebijakan moneter di pekan depan ke arah yang lebih hawkish.

Meskipun inflasi Inggris di bawah 5% yang terakhir tercatat di Amerika Serikat, dan pemulihan pasca-COVID kurang maju, pasar keuangan mengharapkan BoE untuk mulai menaikkan suku bunga sebelum Federal Reserve AS, yang membuat urutan yang jarang terjadi secara historis.

Ekonom di Bank of America, Robert Wood, yang saat ini memprediksi kenaikan suku bunga pertama di Inggris akan terjadi pada Mei 2022 mendatang, mengatakan bahwa Bank of England tidak memiliki tujuan untuk melampaui target inflasi, seperti yang dilakukan oleh The Fed.

Indeks perkiraan untuk suku bunga bunga BoE mencatat kenaikan menjadi 0.25% pada Juni 2022 mendatang, dari saat ini di kisaran 0.1%, yang mencatat perubahan haluan dari awal tahun ini, di saat Bank of England dinilai lebih mungkin untuk menurunkan suku bunga di bawah nol persen.

Sementara itu Gertjan Vlieghe sebagai salah satu pejabat pembuat kebijakan Bank of England yang bersikap lebih dovish, telah mengatakan di bulan lalu bahwa dirinya memperkirakan suku bunga perlu untuk naik di akhir tahun 2022 mendatang, jika ekonomi Inggris mengalami pertumbuhan seperti yang diharapkan, namun demikian sebagian besar ekonom yang disurvei oleh pihak Reuters, masih mengharapkan bahwa pihak Bank of England akan mulai menaikkan suku bunga acuannya di tahun 2023.

Dalam hal pertumbuhan ekonomi Inggris, data pertumbuhan di bulan April menjadi yang tercepat sejak bulan Juli 2020 lalu, seiring toko, pub dan restoran yang bersifat non-esensial, kembali dibuka setelah meluasnya program vaksinasi.

Akan tetapi rencana untuk adanya pelonggaran lebih lanjut sejak 21 Juni, nampaknya telah mengalami penundaan selama empat pekan, akibat penyebaran varian baru virus corona yang lebih cepat.

Output ekonomi pada bulan April masih tercatat hampir 4% di bawah level sebelum terjadinya pandemi, setelah sebelumnya mengalami penurunan hampir 10% pada tahun 2020, dan 1,7 juta orang, atau sekitar 7% dari jumlah total karyawan yang mengandalkan dukungan cuti pemerintah pada akhir Mei.

Ketidakpastian tentang apa yang terjadi pada mereka ketika dukungan cuti berhenti pada akhir September adalah alasan utama mengapa sebagian besar pembuat kebijakan BoE diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan.

Lonjakan inflasi di Inggris setelah mengalami krisis keuangan di tahun 2008 silam, dinilai tidak akan memicu terjadinya “wage-prices spiral” seperti yang terjadi pada dekade 1970-an, akibat lemahnya daya tawar yang lemah dari banyak pekerja serta ekspektasi inflasi publik yang menurun.

Lebih lanjut Wood yang dikenal sebagai ekonom senior di Bank of America, juga mengatakan bahwa mengurangi pembelian aset untuk saat ini berisiko melemahkan kekuatan masa depan dari BoE, sehingga proses voting untuk mengakhiri program QE lebih awal, dinilai akan merusak alat kebijakan QE itu sendiri, dikarenakan hal tersebut berfungsi sebagian dengan menjadi sinyal yang kredibel terhadap penerapan suku bunga rendah yang lebih lama.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.