fbpx
Rabu, 4 Agustus 2021

Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Naik Dua Digit

Meskipun tingkat pertumbuhan bulanan mengalami perlambatan akibat gelombang baru infeksi Covid-19 yang membebani kepercayaan konsumen, namun pembelian produk mobil dan ponsel mencatat kenaikan sehingga mempengaruhi laju pengeluaran rumah tangga Jepang yang naik hingga dua digit di bulan Mei lalu.

Pemerintah Jepang merilis data pengeluaran rumah tangga yang tumbuh sebesar 11.6% di tingkat tahunan pada bulan Mei lalu, yang mana ini menjadi kenaikan dalam tiga bulan secara beruntun setelah sebelumnya mampu mencatat kenaikan 13.0% di bulan April dan angka ini lebih kuat dari perkiraan kenaikan 10.9% dari para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Saat ini ekonomi Jepang tengah berjuang untuk mampu keluar dari hambatan yang dtimbulkan oleh pandemi virus corona, setelah pemerintah menerapkan langkah-langkah darurat di Tokyo serta sejumlah daerah utama lainnya untuk meredam kebangkitan kasus infeksi virus.

Namun keuntungan tersebut sepertinya lebih condong disebabkan oleh efek mundur dari penurunan di tahun lalu, saat pandemi serta kondisi darurat nasional mengharuskan sejumlah aktifitas bisnis ditutup sehingga menganggu laju kehidupan warga Jepang sehari-hari.

Jika tidak mencakup pembelian barang-barang mahal seperti perumahan, mobil dan hadiah mewah lainnya, laju pengeluaran rumah tangga Jepang naik 8.9% di tingkat tahunan, akan tetapi mencatat angka 6.5% lebih rendah dibandingkan data pada periode yang sama pada dua tahun sebelumnya.

Ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute, Takumi Tsunoda mengatakan bahwa akan sulit bagi belanja di sektor jasa untuk mampu pulih jika kebijakan pembatasan aktifitas ekonomi tidak dicabut sepenuhnya, sementara peluncuran program vaksinasi telah berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan, sehingga dampaknya terhadap ekonomi kemungkinan tidak terlihat hingga bulan September atau bahkan sebelum bulan tersebut.

Akan tetapi Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi melaporkan bahwa angka di tingkat bulanan justru menunjukkan adanya kontraksi sebesar 2.1%, namun masih lebih baik dari perkiraan penurunan sebesar 3.7% dari para ekonom.

Lebih lanjut Tsunoda mengatakan bahwa menyusul laju pengeluaran di bulan Mei yang mengalami penurunan lebih sedikit dari bulan sebelumnya dibanding perkiraan semula, laju penjualan produk mobil yang lemah di bulan Juni, akibat dari kurangnya pasokan semikonduktor, kemungkinan akan membebani laju pengeluaran di bulan sebelumnya.

Pertumbuhan tingkat pengeluaran di bulan Mei dinilai tidak akan menghilangkan kekhawatiran terhadap perlambatan pemulihan di Jepang seperti yang terlihat di negera-negara ekonomi utama lainnya, seperti AS yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan dalam laju tercepat di 7.0% oleh International Monetary Fund.

Kombinasi risiko lonjakan lain dalam infeksi dan dorongan vaksinasi yang terlambat di negara ini telah merusak kepercayaan konsumen dan bisnis.

Sedangkan sebuah data terpisah menunjukkan bahwa upah riil yang disesuaikan dengan inflasi pada bulan Mei, mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak Juni 2018 lalu, yang sebagian disebabkan oleh lonjakan pembayaran lembur tahunan.

Sejumlah analis merasa khawatir bahwa ekonomi Jepang berpotensi mengalami kejatuhan kembali ke dalam resesi di periode kuartal kedua, yang diartikan sebagai kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut akibat tingkat kepercayaan konsumen dan bisnis yang mengalami pukulan dari langkah-langkah pemerintah untuk menghentikan infeksi virus corona.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.