fbpx
Rabu, 27 Oktober 2021

RBA Mengisyaratkan Perpanjangan Pembelian Obligasi

Guna memenuhi tujuan untuk meningkatkan lapangan kerja dan laju inflasi, pihak Reserve Bank of Australia mengisyaratkan kesediannya untuk memperpanjang program pembelian obligasinya di bulan depan, dan sekaligus akan menetapkan opsi untuk rencana tersebut.

Risalah pertemuan kebijakan dari Reserve Bank of Australia di bulan Juni akan menunjukkan bahwa para anggota dewan kebijakan akan membahas pengurangan dan bahkan akan menghentikan kampanye pelonggaran kuantitatif dalam skala besar-besaran di saat putaran pembelian obligasi senilai A$ 100 milliar ($ 77 milliar) yang akan berakhir di bulan September mendatang.

Hal ini menjadi pertama kalinya bagi RBA yang menjelaskan bagaimana mungkin untuk merevisi kampanye pembelian obligasi mereka, yang mana keputusan akhir akan dijadwalkan pada pertemuannya di 6 Juli mendatang.

Analis memperkirakan bahwa apapun yang diputuskan oleh RBA mengenai program pembeliah obligasi, maka mereka akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga di rekor terendahnya di 0.1% untuk jangka waktu yang lama.

Dalam risalah pertemuan kebijakan bulan Juni ini, RBA menunjukkan bahwa dengan mengamati program pembelian obligasi yang telah menjadi salah satu faktor yang mendukung kondisi akomodatif yang diperlukan untuk pemulihan ekonomi, maka para anggota dewan kebijakan berpikir bahwa terlalu dini untuk mempertimbangkan penghentian program pembelian obligasi.

Opsi lainnya yang dibahas termasuk putaran ketiga pembelian obligasi senilai A$ 100 milliar selama enam bulan, mengurangi jumlah aset obligasi yang dibeli serta menyebarkan pembelian dalam periode yang lebih lama.

Seiring pihak RBA yang tidak memberikan indikasi preferensi, maka para ekonom terbagi dalam pendekatan yang mungkin diadopsi oleh bank sentral dengan beberapa anggota memprediksi putaran program senilai A$ 100 milliar lainnya, sedangkan anggota yang lainnya memperkirakan program yang lebih fleksibel.

Disebutkan pula bahwa pertimbangan utama untuk keputusan kebijakan di bulan Juli, adalah kemajuan yang dibuat untuk menwujudkan tujuan dewan kebijakn terhadap sektor pekerjaan dan inflasi serta kemungkinan efek dari opsi yang berbeda pada kondisi keuangan secara keseluruhan.

Selain itu RBA juga mengatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan nasib target imbal hasil tiga tahun pada 6 Juli, saat ini dipatok di kisaran 0.1%, sehingga analis percaya bahwa RBA tidak akan memperpanjang target di luar obligasi untuk April 2024, namun bank sentral Australia tidak memberikan indikasi apakah akan setuju dengan pandangan pasar.

Para investor juga akan mengamati komunikasi dari pihak RBA dalam beberapa pekan ke depan, dimulai dengan pidato dari Gubernur RBA Philip Lowe pada hari Kamis lalu, serta asisten Gubernur RBA Luci Ellis yang akan berbicara di sebuah konferensi pada 23 Juni mendatang, yang kemudian akan diikuti oleh partisipasi panel oleh Gubernur Lowe pada 30 Juni.

Terkait akan hal ini ekonom RBC Su-Lin Ong menilai bahwa jika dewan ingin mendorong kembali harga pasar dan spekulasi menjelang 6 Juli mendatang, maka akan ada banyak kesempatan untuk melakukan hal tersebut dalam beberapa minggu ke depan.

Dalam menjelaskan perlunya kebijakan moneter yang mudah, RBA mengatakan bahwa pertumbuhan upah perlu berkelanjutan untuk berada di atas 3%, guna membantu mencapai target inflasi 2% hingga 3%, yang mana inflasi inti saat ini berada di titik terendah sepanjang masa di kisaran 1.2%, menyusul pertumbuhan upah hanya tumbuh 1.5%, dibandingkan dengan 2% di Eropa dan hampir 3% di AS.

Untuk hal ini RBA memperkirakan bahwa tekanan upah akan tetap moderat hingga 2024, meskipun ada pertumbuhan lapangan kerja yang kuat, yang mana indikator utama permintaan tenaga kerja, seperti lowongan pekerjaan, telah menunjukkan peningkatan lebih lanjut yang solid dalam pekerjaan dalam beberapa bulan mendatang.

Namun seraya mengutip program penghubungnya dengan sektor bisnis, RBA mengatakan bahwa pihak perusahaan yang menghadapi kekurangan tenaga kerja telah menawarkan insentif non-upah, untuk menarik serta mempertahankan staf seperti bonus sebanyak satu kali serta pengaturan kerja yang fleksibel.

Sejumlah perusahaan juga memilih untuk menjatahkan output karena kekurangan tenaga kerja, dibandingkan harus membayar upah yang lebih tinggi untuk menarik pekerja baru.

Taylor Nugent selaku ekonom di NAB mengatakan bahwa risalah tersebut juga menyoroti pandangan dovish dari RBA yang sedang berlangsung seputar inflasi dan upah, yang menunjukkan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk mengikuti jejak RBNZ dan Bank of Canada yang menandai suku bunga yang lebih tinggi di tahun 2022 mendatang.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.