fbpx
Rabu, 27 Oktober 2021

Sektor Tenaga Kerja Australia Berkinerja Solid

Sektor tenaga kerja Australia menunjukkan kinerja yang solid seiring penciptaan lapangan kerja di negara tersebut yang mampu melampaui ekspektasi di bulan Mei, menyusul turunnya tingkat pengangguran ke level terendahnya sebelum pandemi.

Yang mana kejutan terkait kenaikan besar yang akan menguji komitmen dari para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level terendahnya dalam sejarah selama dua tahun atau lebih.

Australian Bureau of Statistics (ABS) merilis data yang menunjukkan sebanyak 115,200 pekerjaan mampu diciptakan di bulan Mei, jauh di atas perkiraan kenaikan sebanyak 30 ribu, sementara pekerjaan full time mencatat lonjakan sebanyak 97,500 dan ditambah peningkatan jam kerja yang tajam sehingga menunjukkan adanya peningkatan output.

Sementara tingkat pengangguran dilaporkan turun menjadi 5.1% dari 5.5% di bulan April lalu, yang mencatat laju pemulihan yang luar biasa dari level tertingginya di 7.5% pada bulan Juli tahun lalu, saat diterapkan kebijakan lockdown yang mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Dengan demikian kinerja sektor tenaga kerja tersebut akan disambut hangat oleh Reserve Bank of Australia (RBA), namun juga menjadi tantangan bagi keyakinan mereka bahwa akan membutuhkan waktu selama bertahun-tahun sebelum pasar tenaga kerja yang ketat mendorong tingkat upah dan laju inflasi lebih tinggi secara berkelanjutan.

Namun sikap dan pandangan dari RBA ini nampaknya bertolak belakang, menyusul bank sentral dunia di negara ekonomi utama lainnya menjadi bersikap lebih hawkish, terutama Federal Reserve dan tetangga mereka Reserve Bank of New Zealand.

Terkait akan hal tersebut Gareth Aird selaku kepala ekonomi Australia di CBA, mengatakan bahwa mengingat pergeseran retorika yang terjadi baru-baru ini di luar negeri, pihak RBA tampak bersikap sangat dovish, terutama jika mengingat kekuatan ekonomi yang relatif.

Data pekerjaan yang mengejutkan datang setelah Gubernur RBA Philip Lowe berpendapat bahwa upah akan tetap lemah untuk beberapa waktu, sebagian karena fokus yang meluas pada pemotongan biaya oleh perusahaan.

Dalam pidato yang disampaikan sebelumnya Gubernur Lowe mengatakan bahwa ihak perusahan telah menggunakan strategi non-upah untuk mempertahankan serta sekaligus melakukan perekrutan staf, atau bahkan memilih untuk menjatah output.

Sehingga pihak RBA meluncurkan isyarat bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunganya dan akan tetap di kisaran 0.1% sampai laju inflasi kembali ke kisaran targetnya di 2-3% dan hal tersebut nampaknya tidak akan terjadi hingga 2024 mendatang.

Akan tetapi data untuk bulan Mei menunjukkan pengangguran sudah turun di 5,1%, di saat RBA tidak memperkirakan akan mencapai 5% hingga akhir tahun ini, dan Lowe mengatakan bahwa dibutuhkan tingkat pengangguran di kisaran 4% atau bahkan lebih rendah guna mendorong laju pertumbuhan upah tahunan di atas 3% seperti yang diinginkan.

Sementara itu ekonom di Capital Economics, Ben Udy mengatakan bahwa data tersebut menambah kasus bagi RBA untuk mengurangi target imbal hasil obligasi dan program pembelian aset pada kesempatan pertemuan kebijakan di bulan Juli.

Lebih lanjut Udy menambahkan bahwa pihaknya berharap RBA akan mengumumkan program pembelian aset yang lebih fleksibel pada pertemuan berikutnya, namun jika pemulihan pemulihan pasar tenaga kerja bertahan seperti yang diharapkan, maka pihak bank sentral mungkin akan memanfaatkan fleksibilitas dengan mengurangi pembelian aset lebih cepat dari antisipasi semula di bulan November mendatang.(WD)

- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Subscribe to our newsletter

Dapatkan berita terupdate dan konten - konten menarik seputar forex.